Kampung Melo, Sepenggal Cerita Suku Manggarai di Labuan Bajo
Share
Share
Share

Kampung Melo, Sepenggal Cerita Suku Manggarai di Labuan Bajo

12 December 2020 By eric theo

Share
Share
Share

Mengunjungi pantai berpasir putih yang indah dan elok merupakan andalan wisatawan kala berwisata ke Labuan Bajo. Jika ingin cerita perjalanan yang lebih kaya, maka kali ini Wonderer harus menambahkan Kampung Adat Melo sebagai salah satu destinasi yang wajib dikunjungi di sela rentetan nama-nama pantai.

Apa saja yang menarik Kampung Adat Melo ini? Kampung Adat Melo di Labuan Bajo ini merupakan salah satu perkampungan asli yang menyimpan daya tarik. Atmosfer serta kentalnya budaya menjadikan kampung ini menjadi salah satu destinasi wajib kunjung pada paket wisata Labuan Bajo.

Lokasinya Kampung Adat Melo bisa dibilang cukup mudah dijangkau. Kampung Adat Melo hanya berjarak 25 km sebelah tenggara pusat keramaian Labuan Bajo. Untuk tiba di sini, dibutuhkan waktu sekitar 45 menit menggunakan kendaraan. Selain itu, lokasi Kampung Adat Melo ini pun jaraknya tidak terlalu jauh dari jalanan utama atau Trans Flores. 

Turun dari kendaraan, Wonderer harus sedikit mendaki karena Kampung Adat melo berlokasi tepat di atas bukit. Udara di sekitar yang cukup sejuk ditambah hijaunya pepohonan akan membuat kamu lupa jika sedang mendaki.

Setibanya di Kampung Adat Melo, biasanya para wisatawan atau tamu akan disambut oleh para pemuka adat dan diantar masuk diiringi musik khas kampung Melo. Jangan lupa untuk bertemu oleh ketua adat setempat untuk melanjutkan ritual penyambutan. Semua ritual yang dijalankan oleh masyarakat Kampung Adat Melo, dilakukan dengan tujuan menjaga adat Manggarai Barat.

Setelah ritual penyambutan rampung, kamu akan diajak untuk menyaksikan Tarian Caci yang merupakan tari tradisional Suku Manggarai. Berbeda dengan tarian-tarian pada umumnya yang mengutamakan keindahan dan padu padan gerakan yang seirama. Pada Tarian Caci ini, para pemuda tanah setempat akan menggunakan cambuk dan tameng sambil menari. 

Penari akan mencambuk satu sama lain secara bergantian, melompat dan mengikuti iringan lagu tarian tersebut. Tenang saja, mereka sudah terlatih, jadi tidak ada yang benar-benar tersakiti saat pertunjukan tarian ini.

Tari Caci, adalah ragam tari perang khas tanah Flores. Dahulu tarian ini digunakan untuk memperebutkan wilayah antar desa, namun kemudian justru berubah menjadi simbol keakraban Suku Manggarai. Tak ada perseteruan, saat ini Tari Caci justru ditampilkan pada upacara pernikahan dan upacara syukur keberhasilan panen dan kebaikan lain yang mereka rasakan. 

Jangan lewatkan jamuan makan dengan hidangan khas Kampung Melo. Nasi Kolo berpadu dengan ayam asap dan sambal kemiri tentu siap membuat lidah bergoyang. 

Seru kan? Jadi, jangan ragu untuk menyisipkan Kampung Melo sebagai destinasi saat bertandang ke Labuan Bajo. (DD)